Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Lapor Bu Sri Mulyani! Investor Kabur 2 Pekan Beruntun Jual SBN RI

 

Jakarta, Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau melonjak tembus 7% pada Jumat (19/4/2024).

Dilansir dariRefinitiv, imbal hasil SBNpada penutupan perdagangan terakhir pekan ini berada di angka 7,043% atau naik 1,92%. Imbal hasil ini merupakan yang tertinggi sejak 31 Oktober 2023 atau hampir enam bulan terakhir. 

Imbal hasil yang melambung tinggi ini menandakan investor cenderung melepas SBN. Banyaknya investor yang melepas SBN ini juga menjadi salah satu faktor dari jebloknya rupiah.

Di akhir perdagangan, rupiah ditutup melemah 0,49% di angka Rp16.250/US$. Sementara secara mingguan rupiah juga terpantau ambles 2,59%.

Banyaknya SBN yang dilepas sudah berlangsung sebelum libur Lebaran. Hal ini dapat terlihat dari data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) di pekan pertama April 2024.

Berdasarkan data transaksi 1 - 4 April 2024, investor asing di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp8,07 triliun terdiri dari jual neto Rp1,41 triliun di pasar SBN, jual neto Rp5,88 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp0,78 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Foreign outflow kembali terjadi pasca libur Lebaran.

Berdasarkan data transaksi 16 - 18 April 2024, investor asing di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp21,46 triliun terdiri dari jual neto Rp9,79 triliun di pasar SBN, jual neto Rp3,67 triliun di pasar saham, dan jual neto Rp8,00 triliun di SRBI.

Di pasar SBN tercatat investor asing keluar selama dua pekan beruntun dan di SRBI investor asing keluar selama empat pekan beruntun.

Oleh karena itu, selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen s.d. 18 April 2024, investor asing jual neto Rp38,66 triliun di pasar SBN, beli neto Rp15,12 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp12,90 triliun di SRBI.

Keluarnya investor asing ini tercermin dari kepemilikannya yakni sebesar 14,07% pada 16 April 2024 menjadi 14,03% pada 18 April 2024.

Hal ini terjadi akibat ketidakpastian global yang terjadi selama masa Lebaran 2024 seperti data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang di atas ekspektasi pasar dan ekskalasi konflik Timur Tengah antara Iran dan Israel.

Perang meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor cenderung menarik dana dari aset berisiko tinggi dan negara berkembang.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) BI Edi Susianto mengungkapkan selama periode libur Lebaran terdapat perkembangan di global dimana rilis data fundamental AS makin menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat seperti data inflasi dan retail sales yang di atas ekspektasi pasar.

Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed) pun mengalami kemunduran seiring data AS yang masih cukup panas.

Survei CME FedWatch Tool menunjukkan pergeseran dari Juni 2024 sebagai first cut rate menjadi September 2024 dengan persentase 45,1%.

Potensi total pemangkasan suku bunga pun mengalami penurunan menjadi hanya satu kali disepanjang 2024. Hal ini berbanding terbalik dengan dokumen dot plot Maret 2024 yang berada di angka tiga kali dengan total 75 basis poin (bps).

Sumber berita / artikel asli : CNBC Indonesia


Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Hollywood Movies

Copyright © 2024 - Muslimtrend.com | All Right Reserved