Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tom Lembong Senggol Luhut soal Harga Nikel-Nyesal Pernah Jadi Bagian Pemerintah

Jakarta - Co-Captain Tim Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN), Thomas Trikasih Lembong menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengenai penurunan harga nikel dunia hingga 50% sejak 3 Januari 2023.

Pria yang akrab disapa Tom Lembong ini mewanti-wanti Luhut agar hati-hati dalam berucap. Adapun sebelumnya, Luhut menilai tidak masalah bila tambang dunia yang terancam tutup imbas penurunan harga nikel, selama kondisi di Indonesia tidak demikian.

"Hati-hati berbicara terlalu dini ya," kata Tom Lembong ditemui usai diskusi "Pemuda Harsa: Bangga Bicara" di On3 Senayan, GBK, Jakarta, Jumat (9/2/2024) malam.

Tom Lembong menilai, penurunan harga nikel masih akan terus berlanjut, dan ada kemungkinan harga nikel terus melemah sampai tahun depan, atau bahkan mungkin dua tahun berikutnya. "Jadi jangan kita merayakan terlalu cepat, terlalu dini," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mewanti-wanti Luhut agar menjaga bicara, mengingat kondisi ini masih awalan. Menurutnya, kondisi ini akan berimbas ke industri smelter manapun, termasuk mengancam tambang nikel di Indonesia.

"Hati-hati berbicara terlalu dini karena ini kisahnya belum selesai, masih ada beberapa tahun lagi di mana harga nikel akan turun terus melemah dengan konsekuensi bagi industri smelter maupun tambang nikel di Indonesia," tuturnya.

Nyesal Pernah Jadi Bagian Pemerintah

Di samping itu, ia juga Tom Lembong mengaku menyesal pernah menjadi bagian dari pemerintahan sebelumnya. Dalam hal ini, ia menyesal karena kala itu strategi yang dijalankannya dalam membenahi ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya berhasil.

Tom Lembong sendiri punya rekam jejak sebagai menteri di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, tepatnya di Kabinet Kerja 2014-2019. Ia pernah menduduki posisi Menteri Perdagangan (Mendag) dari 12 Agustus 2015 hingga 27 Juli 2016 dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak 27 Juli 2016 hingga 23 Oktober 2019.

"Semakin mendalami data-data ekonomi, saya ini benar-benar sedih banget. Sedih banget, prihatin banget. Dan saya punya rasa sesal, nyesal yang lumayan besar karena saya pernah menjadi bagian dari pemerintah," kata Tom Lembong, dalam diskusi tersebut.

"Termasuk di saat-saat kita menjalankan strategi yang menurut data yang saya lihat, rada-rada tidak berhasil. Kalau mau lebih keras lagi, ya banyak gagal," sambungnya.

Menurutnya, salah satu bentuk kegagalan yang dimaksud ialah Pemerintah RI tidak dapat mengatasi kondisi di mana dalam 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah di Indonesia tidak mengalami perkembangan signifikan. Ia pun memaparkan data tentang penjualan sepeda motor.

Tom Lembong mengatakan, pada 2013 lalu terjadi puncak penjualan sepeda motor hingga tembus 7,9 juta unit terjual. Namun dari tahun ke tahun, angka itu mengalami penurunan, apalagi karena terbentur pandemi. Akan tetapi hingga saat ini penjualan motor hanya di kisaran 5 juta unit per tahun.

"Sepuluh tahun terakhir ini kelas menengah kita tidak berkembang. Minimum paling baik itu stagnan, tidak bertambah dan ada potensi cukup besar bahwa kelas menengah kita lalu menciut karena sekali lagi, bagi saya indikator yang paling tepat itu ya jumlah sepeda motor," ujarnya.

Bentuk grafik yang tak jauh berbeda juga terlihat dari pertumbuhan pembelian mobil dan barang elektronik, di mana jumlahnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan, jumlah kelas menengah terus terhimpit. Menurutnya, kondisi ini bisa terjadi karena ketimpangan.

Tom Lembong menilai, salah satu penyebabnya ialah aliran investasi RI berfokus ke industri padat modal bukan padat karya. Hal ini membuat, hanya sekitar 20% masuk ke Indonesia dan bisa dinikmati masyarakat. Dengan demikian, dari pertumbuhan ekonomi RI yang kini berada di kisaran angka 5%, manfaatnya sangat sedikit diterima masyarakat.

Sebagai tambahan informasi, harga nikel anjlok ke US$ 15.000 per ton. Mengutip laporan The Business Times, harga nikel di LME turun hampir 50% sejak 3 Januari 2023. Pasar nikel berada dalam kondisi ini setelah banjirnya pasokan baru dari Indonesia, akibat dari investasi dan terobosan teknologi besar-besaran dari China.

"Ya biar aja tambang dunia tutup, asal kita nggak ikut-ikutan," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di Kantor Kemenko Marves, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2024).

Menyangkut Indonesia yang dituding sebagai penyebabnya, menurut Luhut, hal ini tidak dapat dipastikan dalam waktu hanya satu tahun. Butuh waktu identifikasi lebih lama untuk memastikan hal tersebut.

Menurutnya, penyebab turunnya harga nikel global dibandingkan dengan tahun lalu ialah karena mencari equilibrium atau titik keseimbangan harga baru. Ia juga menekankan kembali, hal ini butuh kajian panjang.

Sementara menyangkut permintaan World Bank agar Indonesia menahan produksi nikelnya, Luhut menekankan kalau Indonesia tidak pernah jor-joran dalam memproduksi nikel karena Indonesia kelebihan pasokan.

(shc/kil)

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Hollywood Movies

Copyright © 2024 - Muslimtrend.com | All Right Reserved