Muslimtrend.com : Syaikh Dr. Aidh Al-Qarni, tokoh terkemuka dari gerakan Sahwa atau yang dikenal juga dengan “Gerakan Sururiyah” meminta maaf kepada Arab Saudi atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh gerakannya terhadap Kerajaan. Syaikh Al-Qarni menyebut pelanggaran itu telah jauh melenceng dari Al-Quran dan As-Sunnah.

“Saya hari ini mendukung Islam Washatiyyah, terbuka bagi dunia, yang telah diserukan oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman,” kata Syaikh Aidh Al-Qarni dalam acara Ramadhan di saluran TV Rotana Al-Khalijia, seperti dilansir dari Arabnews, Rabu, (15/5/2019).

“Kami mengundang dunia untuk melihat, agama kami datang sebagai rahmat dan keselamatan bagi umat manusia. Atas nama Gerakan Al-Sahwa, saya meminta maaf kepada masyarakat Saudi atas kesalahan yang bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah, bertentangan dengan toleransi Islam, agama yang moderat,” tambah Syaikh Al-Qarni.

Dalam pernyataannya tersebut, Syaikh Aidh Al-Qarni juga berbicara tentang peran Qatar dalam mendukung gerakan Al-Sahwa. “Semakin jauh Anda dari negara kita (Arab Saudi), semakin mereka (Qatar) menyukai Anda. Mereka memberikan uang, rumah bagi mereka yang menentang Arab Saudi,” ungkap Syaikh Aidh Al-Qarni.

Gerakan Sahwa adalah faksi Qutbisme di Arab Saudi. Qutbisme adalah sebuah ideologi Islam yang dikembangkan oleh Sayyid Qutub, tokoh Ikhwanul Muslimin. Gerakan Sahwa dikenal juga dengan sebutan “Sururiyah” dengan tokohnya Muhammad Surur Zainal Abidin. Di antara tokoh-tokoh Gerakan Sahwa yang terkenal saat ini adalah Safar Al-Hawali, Salman Al-Audah, dan Ali Al-Omari.

Asal usul gerakan ini berasal dari ketika anggota Ikhwanul Muslimin melarikan diri dari penuntutan di Mesir pada 1950-an dan 1960-an, dan mencari perlindungan di Arab Saudi. Di Arab Saudi, mereka kemudian diterima dan diberi beberapa kedudukan penting di pemerintahan dan lembaga pendidikan.

Namun pada tahun 1990-an, mereka bangkit dan melakukan kritik terhadap kebijakan kerajaan Arab Saudi.

Para pemimpin Sahwa menuntut peran yang lebih besar dalam pemerintahan, menyerukan demokrasi, mengekang hak keluarga kerajaan, transparansi yang lebih besar untuk dana publik. Di sisi lain mereka juga menuntut masyarakat yang lebih konservatif secara Islami sebagai pertahanan terhadap pengaruh budaya Barat. (DH/MTD)

Sumber : Arabnews | Redaktur : Hermanto Deli

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here