Muslimtrend.com : Azan Maghrib berkumandang di masjid Nurul Iman pada suatu petang, dua bulan silam. Ikbal (29) dan Dayat (38) berlari ke arah tangga menuju masjid yang terletak di rooftop Mal Blok M Square, Jakarta Selatan itu.

Langkah keduanya juga diikuti oleh ratusan jemaah lain yang berebut untuk salat Maghrib berjamaah dan mendapatkan saf terdepan. Jumlah jamaah Masjid Nurul Iman setiap hari Rabu memang berbeda dengan hari biasanya.

Ramainya jamaah itu bukan tanpa sebab. Masjid Nurul Iman setiap Rabu malam biasa menghadirkan Ustadz Khalid Basalamah –ustaz salafi yang sedang digandrungi anak muda berhijrah.

Hadirnya Ustadz Khalid membuat banyak anak-anak muda bahkan hadir satu jam sebelum magrib agar mendapat tempat di dalam masjid dan duduk tepat di depan mimbar Ustadz Khalid dengan buku catatan mereka.

Kajian Ustadz Khalid yang dimulai usai Magrib dan dilanjutkan setelah salat Isya berjamaah itu telah menjadi magnet tersendiri. Jamaah yang didominasi anak muda bahkan bisa membeludak hingga keluar halaman masjid.

Ikbal sendiri datang dari Depok, Jawa Barat. Sedangkan Dayat sengaja datang jauh-jauh dari Pamekasan, Madura untuk menyaksikan langsung kajian Ustadz Khalid.

“Tak apa-apa keringatan dan desak-desakan, saya mau mendengarkan [Ustadz Khalid] paling depan,” ujar Ikbal saat berbincang kepada CNNIndonesia.com
.

Ikbal mengaku sudah memutuskan untuk hijrah sejak tahun lalu. Ia bahkan rela untuk melepas pekerjaannya alias resign sebagai pegawai Bank konvensional swasta di Jakarta untuk menghindari dosa riba.

“Dulu sudah kerja di bank, saya baru paham dari kajian ustaz Ustadz Khalid bahwa ternyata itu kan riba. Itu saya sudah kerja lama, sudah besar gajinya,” kata Ikbal.

Ceramah Ustadz Khalid menjadi rujukan Ikbal untuk keluar dari dosa riba bank konvensional. Setahun belakangan ia hobi mendengarkan kajian-kajian ustaz salafi baik hadir langsung maupun lewat media sosial.

Ustadz Khalid menurut Ikbal menjabarkan dengan logis bahwa riba merupakan salah satu dosa besar dalam agama 
Islam. Ustadz Khalid menenangkan Ikbal untuk tidak takut pada keputusan meninggalkan pekerjaan yang bisa membawa dosa. Rezeki seseorang disebut bukan berasal dari bos yang memberikan lahan pekerjaan.

Ustadz Khalid menekankan bahwa rezeki Allah akan tetap berpihak pada mereka yang memilih pekerjaan karena tujuan dunia akhirat, bukan fokus pada dunia saja.

“Saya pernah konsultasi langsung ke ustaz Ustadz Khalid Basalamah memang haram dan ada sumbernya di Alquran,” kata dia.

Upaya Ikbal untuk hijrah dan keluar dari bank sempat mendapat penolakan dari pihak keluarga dan orang terdekatnya. Kedua orang tuanya bahkan sempat kesal.

“Orang tua kesal karena bilang kan sudah biayai kuliah, dapat sarjana S1. Setelah lulus, kerja [di bank] saja dapatnya susah, eh malah keluar,” kenang Ikbal.

“Tapi saya bisa yakinkan orang tua bahwa rezeki Allah itu luas, semua sudah ditetapkan asalkan kita usaha bekerja untuk mencari rida Allah, bukan murka Allah karena riba,” tambahnya.

Lulusan S1 jurusan Sistem Informasi Universitas Gunadarma itu merasa telah matang mengambil keputusan keluar dari Bank konvensional yang menurutnya kerap mengambil keuntungan dengan cara riba.

Kini, Ikbal lebih memilih untuk bekerja di salah satu rumah produksi sebagai seorang videografer. Ia pun mengaku sudah tak lagi menggunakan bank konvensional sebagai tempatnya menabung.

“Saya jauhi itu, lebih baik menggunakan produk syariah saja,” kata dia.

Hal yang sama juga dilakukan oleh rekannya Dayat yang memilih untuk pindah menabung ke bank syariah. Tercatat sebagai salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemprov Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, ia mengaku sengaja datang dari Madura untuk mengikuti kajian Ustadz Khalid secara langsung.

“Selama ini saya sering ikuti ustaz Ustadz Khalid di Youtube saja, kebetulan lagi ambil cuti jadi ke sini,” kata Dayat dengan logat Madura yang khas.

Dakwah Ustadz Khalid menjadi rujukan Dayat untuk menjalani hidup lebih sunnah, seperti menumbuhkan jenggot. Akibat perubahannya itu, ada anggota keluarganya yang khawatir ia mengikuti kelompok Islam radikal di Indonesia.

“Selain menumbuhkan jenggot, lalu celana mulai tidak kedodoran juga. Keluarga setiap Idul Fitri banyak yang nanya, takut ikut aliran radikal,” kenangnya sambil tertawa.

Bagi Dayat yang belum menikah, gaji yang dia terima sebagai pegawai PNS membuatnya terjebak pada gejala konsumerisme dan foya-foya duniawi. Usai ditinggalkan ayahnya, ia perlahan mulai tersadar dan mencari ilmu Islam secara kaffah.

Ia menyatakan cocok dengan ajaran salafi karena lebih berfokus untuk mengkaji ajaran Alquran dan banyak merujuk pada kajian hadis yang sahih.

Sumber : CNN Indonesia

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here