Pak polisi jangan gantung Abu Janda dong! Ketum KNPI: SP3 atau lanjut?

127

Muslimtrend.com : Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama bertanya-tanya bagaimana kelanjutan kasus Abu Janda atau Permardi Arya. Sudah berbulan-bulan kok kasusnya tanpa kejelasan. Dia meminta kepolisian jangan gantung kasus Abu Janda dong

Kejelasan kasus Abu Janda ini nggak main-main lho, sebab menyangkut nama baik institusi Kepolisian Republik Indonesia. Masyarakat nanti bisa menilai bagaimana sikap kepolisian atas kasus ini.

Polri jangan gantung Abu Janda dong

Permadi arya alias Abu Janda

Ketua Umum DPP KNPI, Haris Pertama mendesak kepolisian untuk tuntaskan kasus Abu Janda. Dia mengeluh kok kasus Abu Janda tidak ada kejelasan sampai hari ini ya. Kasus ini dilanjut atau dihentikan, tidak ada kejelasannya.

“Kan sebuah kasus harus dituntaskan. Kami minta harus dituntaskan apakah ini dihentikan atau dilanjutkan, harus jelas. Kami hormati keputusan kepolisian,” ujar Haris kepada Hops, Jumat 18 Juni 2021.

Bagi KNPI sebagai pelapor kasus Abu Janda, mereka siap saja dengan kejelasan dari kepolisian, mengenai kasus Abu Janda. Bagi Haris dan KNPI, ingin kasus ini tidak rancu.

“Kami kalau mau SP3 ya SP3 aja, lanjut ya lanjut aja. Biar semua orang tahu, biar ada kejelasan jangan digantung gini jadi rancu,” jelas Haris.

Meski sampai saat ini tidak ada kejelasan kasus Abu Janda, Haris mengatakan pihaknya akan terus bersabar menunggu kelanjutan dari kepolisian. Haris yakin kok kepolisian akan bertindak profesional sesuai program Presisi yaitu Polri yang prediktif, responsibilitas, transparan dan berkeadilan.

Haris mengatakan langkah tim KNPI atas mandegnya proses kasus Abu Janda yaitu akan terus menagih kepada kepolisian yang mengusut kasus ini. Organisasi kepemudaan nasional ini memilih tak akan turun ke jalan untuk mendesak penuntasan kasus ini.

“Tentunya kami akan terus tanyakan (kasus Abu Janda), kalau soal demo kami nggak ingin, sebab kondisi Jakarta dan Indonesia sedang pandemi, jadi kalau demo ini efeknya nggak bagus untuk masyarakat,” kata dia.

Haris mengingatkan penuntasan kasus Abu Janda ini nggak main-main, sebab bisa berdampak pada nama institusi kepolisian lho.

“Ini akan berefek pada nama baik insitusi kepolisian, masyarakat kan tanya kejelasan atas status hukum Abu Janda, beitu juga KNPI, selalu pertanyakan keadilan kasus ini,” ujarnya.

Kasus Abu Janda

Permadi Arya atau Gus Sahal
Permadi Arya atau Gus Sahal. Foto Instagram @permadiaktivis2

Abu Janda terseret masalah hukum karea cuitan soal Islam Arogan. Dalihnya dia merespons cuitan dari Ustaz Tengku Zulkarnain.

Abu Janda mengatakan respon kepada Tengku Zulkarnain itu terkait saat yang bersangkutan mencuit bahwa minoritas di negeri ini arogan ke mayoritas.

Buntut dari cuitan Islam Arogan banyak yang protes dan mengecam. Nah KNPI memolisikan Abu Janda soal cuitan itu dan ditangani polisi sesuai LP/B/0056/I/2021/Bareskrim tertanggal 29 Januari 2021.

Abu Janda sudah mengklarifikasi soal cuitan Islam Arogan. Dalam video klarifikasinya yang beresar luas, Abu Janda menjelaskan keributan soal cuitan ini terjadi lantaran konteks kicauannya dihilangkan.

“Izinkan saja jelaskan kesalahpahaman atas tulisan saya di Twitter, komentar saya diviralkan dipotong tanpa melihat konteksnya seolah itu pernyataan mandiri,” jelasnya mengawali video klarifikasi dikutip Minggu 20 Januari 2021.

Padahal, jelas Permadi Arya, cuitannya yang dimasalahkan itu adalah jawabannya atas cuitan Ustaz Tengku zulkarnain. Jadi Abu Janda mengaku reaktif dengan cuitan Tengku Zulkarnain yang menurutnya memprovokasi SARA dengan menuliskan minoritas di Indonesia arogan ke mayoritas.

“Jadi karena itulah keluar kata arogan dari tulisan saya, karena jawab tweet Ustaz Tengku Zulkarnain soal minoritas di Indonesia arogan,” jelasnya.

Dalam poin klarifikasi selanjutnya, Abu Janda mengonfirmasi, Islam arogan yang ia maksudkan dalam kicauannya itu adalah bukan agama Islam tapi kelompok Islam tertentu.

Dia berkicau itu dalam rangka mengkritik sejumlah kelompok Islam yang rajin mengafirkan tradisi budaya lokal nusantara.

“Komentar itu merupakan cara saya sebagai seorang muslim dalam konteks otokritik perihal masalah internal Islam saat ini, makanya saya tulis Islam agama pendatang dari Arab,” ujarnya.

Kelompok Islam tertentu itu bukan kelompok Islam yang berasal dari Indonesia lho, kata dia gitu Sobat Hopers.

“Yang saya maksud itu adalah Islam transnasional seperti salafi wahabi, yang memang pertama datang dari Arab dan kedua arogan ke budaya lokal, haramkan sedekah laut dan sebagainya,” tuturnya.

Jadi kelompok Islam yang ia maksudkan arogan bukan NU, Muhammadiyah dan kelompok aliran lainnya. Abu Janda menjelaskan maksud cuitannya itu adalah bukan mengeneralisasi semua Islam.

Mengakhiri klarifikasinya, dia memohon maaf kepada masyarakat khususnya tokoh muslim atas keribuatan gara-gara cuitannya tersebut. Dia menyampaikan dalihnya dan memohon pamit.

“Semoga bisa menjelaskan mohon maaf jika ada kesalahpahaman maklum jembol menulis saat debat panas jadi suka keluar nggak sinkron. Saya mengucapkan maaf mohon kyai, gus, ustaz mohon arahannya terus, saya pamit,” kata dia pada 30 Januari lalu.

Sumber : Hops

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here