Mengenal Hagia Sophia: dari Katedral jadi Masjid, Museum Hingga Komplek Pemakaman Sultan Ottoman

249

Muslimtrend.com : Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara resmi telah mengumumkan perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid pada Jumat, (10/7/2020). Hagia Sophia memiliki sejarah panjang yang unik dan menarik. Pada awalnya dibangun sebagai gereja katedral pada abad ke 6, kemudian beralih fungsi sebagai masjid pada masa kekaisaran Ottoman dan diubah menjadi museum pada pemerintahan Republik Sekuler Turki. Di Hagia Sophia juga terdapat Komplek Pemakaman para Sultan Ottoman.

Hagia Sophia dibangun pada tahun 537 Masehi oleh Kaisar Bizantium Yustinianus I. Ini adalah salah satu tempat paling suci dan dihormati di dunia bagi orang Kristen. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, Hagia Sophia merupakan Gereja Katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel. Pada tahun 1204 sampai 1261, Hagia Sophia sempat diubah menjadi Gereja Katedral Katholik Roma pada saat Perang Salib Keempat. Bangunan ini tetap menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun sampai penaklukkan Ottoman.

Hagia Sophia menjadi Masjid pada 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Pada 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan oleh Kekaisaran Ottoman di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II, yang kemudian memerintahkan pengubahan Hagia Sophia menjadi masjid. Berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar, dan mosaik yang menggambarkan Yesus, Maria, orang-orang suci Kristen, dan para malaikat dihilangkan dan ditutup. Berbagai atribut Keislaman seperti mihrab, minbar, dan empat menara kemudian ditambahkan. Hagia Sophia tetap bertahan sebagai masjid sampai tahun 1931 M. Kemudian bangunan ini ditutup bagi umum oleh pemerintah Republik Sekuler Turki dan dibuka kembali sebagai museum empat tahun setelahnya pada 1935 M.

Kekaisaran Ottoman runtuh pada tahun 1922 M dan digantikan oleh Republik Sekuler Turki. Presiden pertamanya, Mustafa Kemal Atatürk kemudian mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Karpet untuk ibadah shalat dihilangkan, plester dan cat-cat kaligrafi dikelupas, menampakkan kembali lukisan-lukisan Kristen yang tertutupi selama lima abad. Sejak saat itu, Hagia Sophia menjadi salah satu objek wisata paling terkenal di dunia dan menjadi tujuan bagi para wisatawan dari berbagai negara.

Penggunaan Hagia Sophia sebagai tempat ibadah dilarang keras oleh pemerintah Turki yang berhaluan sekuler. Namun perintah itu mulai melunak pada tahun 2006, ketika pemerintah Turki mengizinkan alokasi khusus untuk sebuah ruangan doa bagi Kristen dan tempat shalat bagi Muslim. Pada tahun 2013, muazin diperbolehkan mengumandangkan adzan dari menara museum sebanyak dua kali dalam sehari.

Di samping terkenal sebagai Katedral, Masjid dan Museum. Di Hagia Sophia juga terdapat komplek pemakaman para Sultan Ottoman. Terdapat lima makam milik Sultan Ottoman beserta anggota keluarga mereka yang juga dibangun dengan megahnya di bagian belakang Hagia Sophia. Dari luar, bangunan itu terlihat seperti Masjid kecil, namun itu adalah makam para Sultan Ottoman.

Kelima makam itu adalah :

  • Makam Sultan Selim II (pemerintahan 1566-1574), dibangun pada tahun 1576 M. Makam ini juga menjadi makam bagi 43 pangeran Ottoman.
  • Sultan Murad III (pemerintahan 1574-1595), dibangun pada tahun 1594 M, tempat sultan dan permaisurinya, Safiye Sultan, putra, dan putri mereka dimakamkan.
  • Sultan Mehmed III (pemerintahan 1595-1603), dibangun pada tahun 1608 M oleh  arsitek kekaisaran Dalgiç Mehmet Aĝa pada 1608 / 1017 H. Di bangunan ini, dimakamkan pula Handan Sultan, selir Mehmed III yang menjadi ibu suri bagi putra mereka Ahmed I. Dimakamkan pula putra dan putri Ahmed I, putri dari Murad III, dan putra sultan lainnya
  • Sultan Mustafa I (memerintah 1617-1618, 1622-1623)
  • Sultan Ibrahim I (pemerintahan 1640-1648)

Baptistery of Hagia Sophia, ruangan bekas tempat pembaptisan kemudian diubah sebagai makam Sultan Mustafa I dan Sultan Ibrahim bersama dengan 17 anggota keluarganya.

Sumber : Wikipedia, Hagiasophiaturkey.com | Redaktur : Hermanto Deli

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here