Bikin Jokowi Ngeri, Tanda-tanda Krisis Ekonomi di Depan Mata?

231

Muslimtrend.com : Presiden Jokowi khawatir dengan ancaman krisis ekonomi dunia lantaran sejumlah lembaga internasional merilis angka proyeksi minus untuk laju perekonomian di 2020. Contohnya proyeksi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), yang menyebutkan kontraksi ekonomi global diprediksi mencapai minus 6 hingga 7,6%.

Presiden Jokowi meminta para menterinya untuk bekerja tidak seperti biasanya. Dia ingin semua menteri merasa bekerja seolah-olah sudah dalam kondisi krisis.

“Tadi di depan saya sudah minta, kita harus memiliki sense of crisis yang sama. Regulasi sederhanakan, SOP sederhanakan. Sesuai dengan keadaan krisis yang kita hadapi. Semua negara sekarang ini mengalami itu, kerjanya cepat-cepatan. Ini kita berkejar-kejaran dengan yang namanya waktu. Jadi sekali lagi ganti channel dari channel normal ke channel krisis,” ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas yang membahas serapan anggaran pada Kamis (9/7/2020), seperti  seperti dilansir dari Detikcom.

Jokowi menjabarkan proyeksi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), yang menyebutkan kontraksi ekonomi global diprediksi mencapai minus 6 hingga 7,6%. Dia mengaku khawatir dengan proyeksi-proyeksi tersebut.

“Kalau endak, ngeri saya terus terang saya ngeri. Di kuartal III ini. Ini kuncinya di kuartal III. Saya melihat memang setelah kita rapat kabinet di sini ada pergerakan yang lumayan. Tapi belum sesuai dengan yang saya harapkan. Sudah bergerak lebih baik, sudah bergerak lebih bagus, tapi belum,” ungkap Jokowi.

Sementara itu, Peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar B. Hirawan mengatakan tanda-tanda krisis ekonomi mulai nampak.

“Yang paling kasat mata ditandai dengan kontraksi yang terjadi di hampir seluruh sektor ekonomi. Khususnya pada indsutri manufaktur dan perdagangan, serta konsumsi rumah tangga dan investasi,” kata Fajar.

Tanda selanjutnya yang sudah sangat terlihat, dikatakan Fajar adalah realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan memproyeksi tumbuh minus 3,8%, yang paling terbaru berada di rentang -3% sampai -5,1%.

“Jika ditanya apakah ada tanda-tanda krisis, ya jelas ada, apalagi kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia dipastikan akan negatif. Di kuartal I-2020 saja pertumbuhan ekonomi kita sudah turun sangat siginifikan. Kemudian karena semua aktivitas ekonomi cenderung melambat mulai April 2020, maka kinerja ekonomi akan semakin terkoreksi lebih dalam lagi,” ujar Fajar.

Sumber : Detikcom

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here